Dinas Pendidikan Kota Bandung mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi tingginya angka anak putus sekolah. Selain faktor ekonomi, kecanduan gadget kini menjadi salah satu penyebab yang ikut disorot.
/data/photo/2023/03/22/641ac001598e9.jpg)
Ilustrasi kegiatan pendidikan. Ribuan anak di Bandung tercatat putus sekolah karena berbagai faktor. (Foto: Kompas)
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menjelaskan bahwa faktor ekonomi masih menjadi alasan utama orang tua menghentikan sekolah anaknya.
Dalam sejumlah kasus, anak diminta membantu mencari nafkah daripada melanjutkan pendidikan. Mereka ada yang bekerja sebagai tukang parkir, berdagang di pasar, atau melakukan pekerjaan lain.
Namun, Asep juga menyoroti fenomena kecanduan gawai. Menurutnya, sebagian anak kehilangan minat belajar karena terlalu sering bermain gim atau menggunakan media sosial.
“Anaknya sama sekali tidak mau sekolah karena kecanduan gadget,” ujar Asep, mengacu pada keterangan yang beredar.
Disdik Kota Bandung masih melakukan verifikasi data anak putus sekolah untuk mengurangi kemungkinan kesalahan. Data awal dari Pusdatin Kemendikdasmen sempat mencatat 22.000 anak putus sekolah di Bandung, kemudian terkoreksi menjadi 11.000 anak.
Setelah divalidasi lebih lanjut, ditemukan sebagian data bukan warga Kota Bandung. Angka sementara kini berada di kisaran 7.800 anak, tetapi pendataan masih terus dilakukan.
Untuk mengatasi masalah ini, Pemkot Bandung menyiapkan program pendidikan kesetaraan melalui Paket A, B, dan C yang tersebar di setiap kecamatan.
Pemerintah juga membuka peluang bagi anak yang ingin kembali ke sekolah formal. Bagi keluarga tidak mampu, biaya pendidikan akan difasilitasi agar anak tetap bisa memperoleh ijazah.
Masalah ini menjadi tantangan bersama bagi pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat agar anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan.
Sumber: Lihat artikel asli