Setiap 24 Maret diperingati sebagai Hari Bandung Lautan Api. Peristiwa ini menjadi pengingat atas keberanian rakyat Bandung yang rela membumihanguskan kotanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kota Bandung bagian selatan dibakar pejuang sebagai strategi melawan penjajah. (Foto: Detik)
Bandung Lautan Api bukan sekadar tragedi sejarah. Peristiwa ini menjadi simbol pengorbanan, keberanian, dan semangat juang rakyat dalam melawan penjajah.
Peristiwa tersebut berawal setelah Indonesia merdeka pada 1945. Para pemuda di Bandung bergerak merebut senjata dari tentara Jepang pada September hingga Oktober 1945.
Situasi berubah ketika pasukan Sekutu datang pada Oktober 1945 dengan membonceng Belanda atau NICA. Kehadiran mereka menjadi ancaman karena berupaya menguasai kembali wilayah Indonesia.
Ketegangan meningkat setelah Sekutu mengeluarkan ultimatum agar warga Bandung Utara mengosongkan wilayah dan pindah ke selatan rel kereta api sebelum 29 November 1945.
Sepanjang akhir 1945 hingga awal 1946, pertempuran antara rakyat Indonesia dan pasukan Sekutu terus terjadi. Situasi memanas ketika Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum agar warga meninggalkan kota dalam radius 11 kilometer.
Pemerintah Indonesia bersama pimpinan militer kemudian mengambil keputusan besar. A.H. Nasution yang saat itu menjabat Komandan Divisi III TRI memerintahkan pengosongan Bandung Selatan.
Pada malam 23 Maret 1946, sekitar 200.000 warga Bandung meninggalkan kota. Sebelum pergi, mereka membakar rumah dan bangunan penting agar tidak dimanfaatkan musuh.
Keesokan harinya, 24 Maret 1946, Bandung Selatan berubah menjadi lautan api. Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai salah satu aksi heroik dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Bandung Lautan Api juga tidak lepas dari tokoh seperti Mohammad Toha, Mohammad Ramdan, A.H. Nasution, dan para pejuang lain yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sumber: Lihat artikel asli