Viralnya video anak disabilitas yang memakan rumput di Kabupaten Bandung Barat menjadi perhatian banyak pihak. Sosiolog Universitas Padjadjaran, Ari Ganjar, menilai kasus tersebut tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan individu.
/data/photo/2026/04/29/69f1d87f9104b.jpg)
Kasus anak disabilitas di Bandung Barat menjadi sorotan terkait perlindungan sosial kelompok rentan. (Foto: Kompas)
Ari menyebut anak tersebut mengalami kerentanan ganda, yaitu kemiskinan dan disabilitas. Kondisi ini membuat keluarga membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sosial maupun pemerintah.
Menurutnya, keluarga miskin sering kali memiliki keterbatasan ekonomi, pengetahuan, dan kemampuan dalam menangani anak disabilitas. Hal ini dapat membuat anak sulit mendapatkan nutrisi, pendampingan, pendidikan, dan perawatan yang memadai.
“Secara sosiologis, anak ini termasuk dalam kerentanan ganda,” ujar Ari, mengacu pada keterangan yang beredar.
Ari juga menilai keluarga dengan anak disabilitas kerap terisolasi dari lingkungan sosial yang dapat memberikan bantuan. Kondisi tersebut dapat memperparah keterbatasan yang mereka hadapi.
Ia menyoroti masih lemahnya perlindungan sosial terhadap kelompok disabilitas, terutama di tingkat lokal dan komunitas warga miskin.
Menurut Ari, pemerintah daerah, aparat kewilayahan seperti RT dan RW, serta kelompok masyarakat sipil perlu lebih proaktif menjangkau anak-anak disabilitas dari keluarga kurang mampu.
Relawan, kader PKK, dan kelompok warga juga dinilai perlu diperkuat dengan pengetahuan, keterampilan, serta dukungan insentif agar mampu melakukan pendampingan secara lebih optimal.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa perlindungan anak disabilitas tidak cukup hanya bersifat responsif setelah viral, tetapi perlu sistem pendataan dan pendampingan yang berkelanjutan.
Sumber: Lihat artikel asli